Hari terakhir, ada dua pilihan mengenai rute yang akan ditempuh pada hari ini. Pilihan pertama turing cukup sampai Binuangeun saja dan setelahnya langsung pulang arah Jakarta lewat Cikande. Dengan rute ini bisa sampai di rumah lebih awal. Tapi banyak yang memilih menyelesaikan terus sampai Tanjung Lesung, alasannya supaya tidak malu dengan rute turing yang sudah terlanjur dicetak di kaos. Gak masalah walau nantinya akan sampai di Jakarta malam hari. No problemo .. capek dikit gak masalah.



Masuk di Malingping kami berhenti di SPBU pertama yang ditemui disisi kiri jalan. Minyak rem R100GS makin tiris, banyak terbuang karena guncangan di jalan. Sejak Awal memang tidak ada seal karet dalam tandon minyak rem. Tetesannya sudah merusak cat disisi kanan tanki dan sedikit spakbor depan.
Malingping adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Indonesia. Kecamatan ini merupakan kecamatan terbesar kedua, setelah kecamatan Rangkasbitung dari seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Lebak. Banyak pantai bagus di Malingping, tapi kami tidak punya cukup waktu untuk mengunjungi salah satunya. Tapi sayang juga kalo tidak ada dokumentasi disekitar sini. Kesempatan foto-foto akhirnya kesampaian juga di Binuangeun yang berjarak 20 km di depan.





Selepas Binuangeun, jalanan sudah tidak mlipir garis pantai lagi, jalan raya Cikuesik - Cibaliung namanya. Jalan tidak terlalu ramai dengan penunjuk arah yang jelas. Tetapi sesampainya di perempatan jalan pasar sukajadi harusnya belok kanan arah labuhan. Entah siapa yang posisi paling depan malah ambil jalan lurus, memang agak membingungkan jalan yang arah kanan sekilas terlihat dalam kondisi rusak. Tidak terpikir kalo itu adalah jalan raya utama arah Tajung Lesung. Konyolnya lagi, bikers yang berada diposisi belakang tidak ada satu pun yang menyadari kalo jalan yang diambil sudah salah arah. Padahal jarak masing-masing motor sangat dekat saat itu.
Kalau sudah nyasar gini bawaannya jadi gak pede, obatnya cuma dengan banyak tanya2. Padahal setiap orang yang ditanya jawabannya sama, "terus saja pak, sampai ketemu perempatan pasar trus ambil kiri." Jam 11.00 kami sampai di pasar dimaksud, supaya lebih afdol tanya sekali lagi. ya betul, belok kiri. Lumayan 1 jam terbuang gara-gara nyasar. Tapi ada hikmahnya, naik motor jadi lebih lama he he he ...



Pukul 14.00 kami sudah berada diatas motor mengarah ke Labuhan melintas jalan raya di sisi Teluk Lada. Tidak sampai masuk kota, dipertigaan belok kanan arah pandeglang melalui Jalan Perintis Kemerdekaan. Awalnya ada kekhawatiran berkendaran dengan kondisi perut kenyang pad jam-jam segini .. Ngantuk !! tapi tidak sampai terjadi, tiba-tiba cuaca gelap dan hujan turun. Minggir sebentar di Ruko untuk ganti kostum tahan air.
Hujan deras cuma sebentar, selebihnya hanya hujang dengan intensitas ringan. Selepas Saketi lalu lintas semakin padat dengan kecepatan maksimum 30km. Jalan raya terlihat kotor berwarna coklat, berasal dari tanah galian dari sisi jalan. Ada perbaikan dan pelebaran jalan. Sudah terbayang bakal menghadapi kemacetan, dan kejadian juga ! tidak lama berselang lalu lintas semakin padat dari kedua arah. Walaupun kecil kendaraan roda dua tidak bisa memilih jalan dan kadang harus ikut berhenti untuk mendapatkan giliran jalan dengan mobil karena padatnya colume kendaraan. Terlalu berisiko untuk mengambil bahu jalan, galian tanah sangat licin ditambah kombinasi lubang gorong-gorong. Ambil kanan jalan tidak kalah beresiko, karena sama padatnya. Bahaya kalao beradu dengan kendaraan besar.
Hampir semua motor sudah berkumpul. Hanya R1100GS BSA yang tidak kunjung muncul. Ditunggu terlalu lama, dihubungi tidak bisa. Disimpulkan Bambang SA sudah bablas jalan sendirian di depan. Selanjutnya dari titik ini R1100GS sudah terlepas dari rombongan.
Hujan kembali turun. Hari sudah gelap selepas magrib ketika keluar Rangkasbitung mengikuti papan penujuk arah yang bertuliskan Jasinga Bogor. Rute terasa semakin berat. Kondisi jalan yang bisa dibilang sangat tidak ramah, tanpa penerangan sama sekali dan ranjau kubangan sangat banyak. Motor dengan suspensi ala kadarnya tersiksa lewat jalan ini. Untung tidak ada motor mogok, bakal repot karenanya.
Tanpa disadari rombongan terpecah dua. Sebelum masuk Jasinga, sekitar pukul 19.00 lima motor terdepan berhenti di sebuah warung. Warung sederhana dari kayu, tapi jajanan lumayan komplit. Cocok untuk tempat berhenti kendaraan yang bepergian lewat jalur ini. Makan malam di warung ini. Bogor masih jauh didepan, sementara empat motor belum ada kabar jauh tertinggal di belakang. Mie rebus yang dimasak terlalu matang tetap terasa enak, padahal 3 jam sebelumnya sudah kenyang makan di pandeglang. Udara dingin dan hujan memang menguras tenaga. Hidra dapat mie hambar, sepertinya si akang yang buat lupa menuangkan bumbu, tapi tetap habis tuh ..
Tidak lama berselang, Heru dan anaknya Dhimas datang bergabung. Memberi kabar kalo Bambang BPS memutuskan untuk menginap semalam di Rangkas Bitung ditemani Boy. Tidak mau memaksakan riding hujan-hujan di malam hari. Dan melanjutkan ke Jakarta lewat serang besok harinya.
Yang tersisa selanjutnya berjalan konvoi tanpa terputus dengan kecepatan rendah. Berjalan terseok-seok dengan kondisi jalan yang makin parah. Bogor menjadi titik finish turing ini. Heru dan Dhimas memisahkan diri begitu memasuki kota Bogor. Sisanya berpisah di Semplak, Rohman, Ervien dan Soeharno ke kiri arah Parung. Rizal, Agus, Hidra dan Yoni masuk Jakarta lewat Cibinong.
kompak selalu BMW Motor Club Jakarta !!
Yang tersisa selanjutnya berjalan konvoi tanpa terputus dengan kecepatan rendah. Berjalan terseok-seok dengan kondisi jalan yang makin parah. Bogor menjadi titik finish turing ini. Heru dan Dhimas memisahkan diri begitu memasuki kota Bogor. Sisanya berpisah di Semplak, Rohman, Ervien dan Soeharno ke kiri arah Parung. Rizal, Agus, Hidra dan Yoni masuk Jakarta lewat Cibinong.
kompak selalu BMW Motor Club Jakarta !!
No comments:
Post a Comment