Saturday, 11 May 2013

Ujung Genteng - Tanjung Lesung Tour [Celebrating 90 Years BMW Motorrad] Day 3

Day 3, Bayah - Tanjung Lesung - Bogor

Hari terakhir, ada dua pilihan mengenai rute yang akan ditempuh pada hari ini. Pilihan pertama turing cukup sampai Binuangeun saja dan setelahnya langsung pulang arah Jakarta lewat Cikande. Dengan rute ini bisa sampai di rumah lebih awal. Tapi banyak yang memilih menyelesaikan terus sampai Tanjung Lesung, alasannya supaya tidak malu dengan rute turing yang sudah terlanjur dicetak di kaos. Gak masalah walau nantinya akan sampai di Jakarta malam hari. No problemo .. capek dikit gak masalah.

Jam setengah 8 kami sudah berada di jalan raya Bayah - Cikotok, menyusuri jalan di teluk Ciletuh. Cuaca pagi cerah, dari atas motor kita seolah kejar-kejaran dengan ombak laut selatan. Walau ombak besar, tapi gemuruhnya nyaris tidak terdengar. Kalah dengan suara knalpot R67/3 nya Heru yang akhirnya copot juga di sini.

Masuk di Malingping kami berhenti di SPBU pertama yang ditemui disisi kiri jalan. Minyak rem R100GS makin tiris, banyak terbuang karena guncangan di jalan. Sejak Awal memang tidak ada seal karet dalam tandon minyak rem. Tetesannya sudah merusak cat disisi kanan tanki dan sedikit spakbor depan.

Malingping adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Indonesia. Kecamatan ini merupakan kecamatan terbesar kedua, setelah kecamatan Rangkasbitung dari seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Lebak. Banyak pantai bagus di Malingping, tapi kami tidak punya cukup waktu untuk mengunjungi salah satunya. Tapi sayang juga kalo tidak ada dokumentasi disekitar sini. Kesempatan foto-foto akhirnya kesampaian juga di Binuangeun yang berjarak 20 km di depan.

Binuangeun dikenal sebagai tempat pelelangan ikan terbesar di pantai Lebak selatan. Kami berhenti diatas jembatan Muara Binuangeun.  Cuaca sangat mendukung, angit cerah dengan sinar matahari yang masih dari arah samping. Semua berfoto dengan latar perahu tradisional yang ditambatkan disisi muara, warna -warni. Walau cuma sebentar, banyak foto yang dibuat disini. Karena sudah jauh meleset dari jadwal semula, perjalan terasa terburu-buru. Padahal Tanjung Lesung sudah dekat dan seharunya sudah bisa sampai sebelum jam makan siang.

Selepas Binuangeun, jalanan sudah tidak mlipir garis pantai lagi, jalan raya Cikuesik - Cibaliung namanya. Jalan tidak terlalu ramai dengan penunjuk arah yang jelas. Tetapi sesampainya di perempatan jalan pasar sukajadi harusnya belok kanan arah labuhan. Entah siapa yang posisi paling depan malah ambil jalan lurus, memang agak membingungkan jalan yang arah kanan sekilas terlihat dalam kondisi rusak. Tidak terpikir kalo itu adalah jalan raya utama arah Tajung Lesung. Konyolnya lagi, bikers yang berada diposisi belakang tidak ada satu pun yang menyadari kalo jalan yang diambil sudah salah arah. Padahal jarak masing-masing motor sangat dekat saat itu.

Jalan yang dilalui semakin mengecil dan dalam kondisi berkerikil, kiri kanan terlihat perkampungan. Sudah berlalu 25km baru sadar kalo telah salah jalan, itu pun karena melindas polisi tidur yang sepertinya tidak mungkin ada kalau jalan raya. Pantas banyak warga sekitar yang terbengong2 melihat kawanan motor melintas, bukan kagum tapi heran ini orang pada mau kemana. Bahkan ada beberapa anak sekolah yang melambai-lambai sebelumnya, dibalas pula dengan lambaian tangan dan klakson. Padahal mungkin saja mereka teriak .. "woi .. kalian nyasar !!"

Kalau sudah nyasar gini bawaannya jadi gak pede, obatnya cuma dengan banyak tanya2. Padahal setiap orang yang ditanya jawabannya sama, "terus saja pak, sampai ketemu perempatan pasar trus ambil kiri." Jam 11.00 kami sampai di pasar dimaksud, supaya lebih afdol tanya sekali lagi. ya betul, belok kiri. Lumayan 1 jam terbuang gara-gara nyasar. Tapi ada hikmahnya, naik motor jadi lebih lama he he he ...

Setengah jam kemudian ketemu pertigaan, Tanjung Lesung masih 9km belok kiri. Dari pertigaan ini jalan aspal sangat mulus, tebal dan rata. Beda dengan kondisi aspal sebelumnya. Jarak 9 km terasa sangat pendek. Di bawah pohon rindang tidak jauh dari gerbang masuk Tanjung Lesung Resort menjadi tempat pencapaian turing ini. Hidra dan Rizal jalan terus keliling mencari tempat makan. Ternyata tidak ada restoran umum disekitar sini. Yang ada restoran ekslusif milik pengelola resort. Sekitar 3km kedepan memang ada pantai yang terbuka untuk umum, tapi tidak ada tempat yang menyediakan makan berat. Yang tersedia hanya mie rebus dan minuman kelapa muda. Ya sudah numpang foto-foto saja disini, langsung putar balik jalan pelan sambil toleh kiri-kanan sampai ketemu rumah makan pertama yang menyediakan ikan bakar.

4km dari pintu gerbang Tanjung Lesung Resort, disebelah kiri jalan terdapat Pondok Makan Sari Jaya. Menu yang disajikan cukup beragam, hampir semua hidangan laut. Tepat diseberang jalan terdapat mesjid. Sambil menunggu hidangan masak, disempatkan untuk sholat karena sudah masuk waktu. Lewat 30 Menit hidangan belum siap. Tapi stok sabar masih banyak. Sambil ngobrol dan nyanyi-nyanyi tidak terasa masing-masing sudah menghabiskan satu butir kelapa muda. Lagian tidak ada pilihan lain untuk makan selain di tempat ini. Andaikan makan di restoran padang, mungkin sudah nambah dua kali.

Pukul 14.00 kami sudah berada diatas motor mengarah ke Labuhan melintas jalan raya di sisi Teluk Lada. Tidak sampai masuk kota, dipertigaan belok kanan arah pandeglang melalui Jalan Perintis Kemerdekaan. Awalnya ada kekhawatiran berkendaran dengan kondisi perut kenyang pad jam-jam segini .. Ngantuk !! tapi tidak sampai terjadi, tiba-tiba cuaca gelap dan hujan turun. Minggir sebentar di Ruko untuk ganti kostum tahan air.

Hujan deras cuma sebentar, selebihnya hanya hujang dengan intensitas ringan. Selepas Saketi lalu lintas semakin padat dengan kecepatan maksimum 30km. Jalan raya terlihat kotor berwarna coklat, berasal dari tanah galian dari sisi jalan. Ada perbaikan dan pelebaran jalan.  Sudah terbayang bakal menghadapi kemacetan, dan kejadian juga ! tidak lama berselang lalu lintas semakin padat dari kedua arah. Walaupun kecil kendaraan roda dua tidak bisa memilih jalan dan kadang harus ikut berhenti untuk mendapatkan giliran jalan dengan mobil karena padatnya colume kendaraan.  Terlalu berisiko untuk mengambil bahu jalan, galian tanah sangat licin ditambah kombinasi lubang gorong-gorong. Ambil kanan jalan tidak kalah beresiko, karena sama padatnya. Bahaya kalao beradu dengan kendaraan besar.

Cuma satu jam, tapi sangat menguras tenaga. Walau hujan sudah tidak lagi turun tapi panas nya mantel anti hujan dan suasana macet yang bikin capek hati seolah membuat tenaga yang dikumpulkan di Pondok Makan Sari Jaya terbuang percuma. Kiraa-kira 300 meter setelah RSUD Berkah Pandeglang terdapat pertigaan. Ada polisi mengatur lalu lintas, hampir semua kendaraan dibuang belok kanan. Motor boleh Jalan terus. 50  meter didepan terdapat Rumah Makan Padang SAMULO yang bersebelahan dengan Warung Tegal BAHARI, diantara nya terdapat bengkel las dengan tempat parkir tanah padat yang cukup luas. Disini berhenti untuk mengumpulkan tenaga dan mengumpulkan teman-teman. Ada yang mengeluh sakit pala, sebagian mengeluh lapar. Tapi hampir semua sakau kopi.

Hampir semua motor sudah berkumpul. Hanya R1100GS BSA yang tidak kunjung muncul. Ditunggu terlalu lama, dihubungi tidak bisa. Disimpulkan Bambang SA sudah bablas jalan sendirian di depan. Selanjutnya dari titik ini R1100GS sudah terlepas dari rombongan.

Hujan kembali turun. Hari sudah gelap selepas magrib ketika keluar Rangkasbitung mengikuti papan penujuk arah yang bertuliskan Jasinga Bogor. Rute terasa semakin berat. Kondisi jalan yang bisa dibilang sangat tidak ramah, tanpa penerangan sama sekali dan ranjau kubangan sangat banyak. Motor dengan suspensi ala kadarnya tersiksa lewat jalan ini. Untung tidak ada motor mogok, bakal repot karenanya.

Tanpa disadari rombongan terpecah dua. Sebelum masuk Jasinga, sekitar pukul 19.00 lima motor terdepan berhenti di sebuah warung. Warung sederhana dari kayu, tapi jajanan lumayan komplit. Cocok untuk tempat berhenti kendaraan yang bepergian lewat jalur ini. Makan malam di warung ini. Bogor masih jauh didepan, sementara empat motor belum ada kabar jauh tertinggal di belakang. Mie rebus yang dimasak terlalu matang tetap terasa enak, padahal 3 jam sebelumnya sudah kenyang makan di pandeglang. Udara dingin dan hujan memang menguras tenaga. Hidra dapat mie hambar, sepertinya si akang yang buat lupa menuangkan bumbu, tapi tetap habis tuh ..

Tidak lama berselang, Heru dan anaknya Dhimas datang bergabung. Memberi kabar kalo Bambang BPS memutuskan untuk menginap semalam di Rangkas Bitung ditemani Boy. Tidak mau memaksakan riding hujan-hujan di malam hari. Dan melanjutkan ke Jakarta lewat serang besok harinya.

Yang tersisa selanjutnya berjalan konvoi tanpa terputus dengan kecepatan rendah. Berjalan terseok-seok dengan kondisi jalan yang makin parah. Bogor menjadi titik finish turing ini. Heru dan Dhimas memisahkan diri begitu memasuki kota Bogor. Sisanya berpisah di Semplak, Rohman, Ervien dan Soeharno ke kiri arah Parung. Rizal, Agus, Hidra dan Yoni masuk Jakarta lewat Cibinong.

kompak selalu BMW Motor Club Jakarta !!

1 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...