Showing posts with label wisata. Show all posts
Showing posts with label wisata. Show all posts

Thursday, 28 April 2016

Didalam Tugu Khatulistiwa

Kesampaian juga bisa berdiri diatas lintas garis khatulistiwa ..


Thursday, 9 May 2013

Ujung Genteng - Tanjung Lesung Tour [Celebrating 90 Years BMW Motorrad] Day 1

9-11 Mei 2013
 
 
 
 
 
Rohman
Pak Dhe BPS
Heroe PS
Rizal Yusaac
Boy Unyil
 
 
 
 
 
Djoko Sulis
Agusta
Simonov
Ervien JB
R100GS
Yonee
 
 
 
 

Dhimas
R100R
Soeharno
Bambang S Aji
R1100GS
Irwan
Piaggio

Ide turing dadakan untuk mengisi hari kejepit di akhir pekan mendadak menjadi banyak peminat, dari semula hanya lima motor yang rencana jalan, tiba-tiba bertambah menjadi diatas sepuluh. Rute Ujung Genteng - Tanjung Lesung menjadi daya tarik tersendiri, konon banyak cerita seru dan mengasyikkan dari mereka yang sudah menempuh jalur ini. Jalan menikung dengan tanjakan curam sepanjang pelabuhan ratu - bayah tidak pernah habis untuk dijadikan bahan cerita.

Ide untuk membuat kaos seragam turing muncul tiba-tiba. Karena awalnya turing ini tanpa nama dan tanpa tema, hanya sebatas lanjutan dari turing ke garut tiga bulan sebelumnya. Kebetulan tahun 2013 ini BMW Motorrad tepat berusia 90 tahun dan dijadikan tema turing dadakan. Untuk gambar kaos, theme 90 years BMW Motorrad dimodifikasi dengan menambahkan gambar motor yang sedikit klasik, R90s dan R50/2.

Sehari menjelang keberangkatan, satu peserta mundur karena kepentingan keluarga yang tidak dapat dihindarkan. Padahal Widhi sudah bela-belain beli R75/5 dan motor dikebut setel mesin supaya siap dipakai dalam turing kali ini.

Bogor - Ujung Genteng

Tidak ada kata sepakat untuk menentukan meeting point di sekitaran Jakarta mengingat sebaran peserta yang lumayan beragam. Ide untuk janjian di Warung Jambu Bogor langsung disepakati. Ditetapkan pukul setengah lima di SPBU Warung Jambu Bogor. 12 motor tiba tepat waktu dalam waktu yang hampir bersamaan dalam beberapa rombongan. Yang terakhir bergabung Boy, Djoko dan anaknya Irwan yang numpak Piaggio warna orange. Semua ceria, gak ada cerita murung durja kalo yang yang namanya turing ...

Kelar dholat shubuh, di ufuk timur sana matahari mulai beranjak naik dan kami sudah jalan beriringan menuju arah Ciawi. 2 motor ditinggal, Heroe dan anaknya Dhimas memilih untuk menyusul jalan tengah hari. Jalan yang semula sepi lancar  tiba-tiba padat selepas Ciawi. Udara pagi yang sejuk berubah panas karena menyusuri jalan sempit berebutan dengan bus dan truk,karena ada perbaikan disisi jalan.  Harus jalan ekstra hati-hati, jalan raya yang sebenarmya lega jadi terasa sempit, ditambah lagi dengan pasir dan kerikil yang bertebaran di sisi jalan. Dalam sekejap, konvoi yang awalnya berjalan rapi beriringan langsung berantakan. Hanya mekanik yang tetap setia untuk selalu berada paling belakang sebagai sweeper.

Pukul setengah tujuh R51/3 Rohman menepi tidak jauh setelah lewat pasar Cicurug. Mesin motor tiba-tiba mati, awalnya diduga karena overheat. Motor susah dihidupkan, ternyata ruang bakar kebanjiran bensin. Tidak susah untuk menghidupkan kembali cuma modal amplas dan kunci busi. Sementara itu masuk kabar kalau Piaggio Orange terjatuh tidak jauh selepas Ciawi. Terpeleset karena menghindar lubang dijalan yang licin berpasir. Tidak ada kerusakan dan cidera yang berarti, hanya saja Irwan sedikit terkilir pergelangan tangannya. Tidak memaksakan diri, diputuskan untuk balik kanan pulang kerumah. Untuk R60/2 Djoko dan Piaggio Irwan bisa dibilang turing mereka selesai sampai disini ...

Entah karena sok tahu atau tidak mengikuti petunjuk rute dari ketua rombongan, sesampainya di Cibadak Rohman, Hidra dan Pak Dhe Bambang belok kanan. Menuju Pelabuhan Ratu Lewat Cikidang. Padahal Soeharno dan Rizal menunggu tidak jauh di depannya dekat pos polisi. Baru disadari kalau tiga orang ini meninggalkan rekan-rekannya jauh di belakang ketika 5km menjelang Pelabuhan Ratu, ketika berhenti di depan kantor Badan Permusyawaratan Desa Buniwangi Kecamatan Pelabuhan Ratu. Disampingnya ada  sebuah warung yang menyediakan secangkir air panas mendidih yang dicampur kopi dengan sedikit gula ....

Menyadari kawan jauh tertinggal sekitar satu jam di belakang, tiga motor ini berjalan pelan. Selepas pelabuhan ratu belok kanan arah Jampang Kulon lewat  jembatan yang melintas sungai Cimandiri.
Ada dua jembatan disini, disamping jembatan yang menjadi jalur utama, masih berdiri jembatan gantung legendaris yg berwarna kuning peninggalan jaman Belanda. Masyarakat setempat menyebutnya Jembatan Kuning Bagbagan.

Pukul 09.30 di sekitar Cigarut menepi di Pondok Sate Sindang Heula. Banyak ragam makanan dijual disini. Tempatnya bersih, cukup luas untuk tidur-tiduran dengan area parkir yang luas dan terbuka. Cukup strategis untuk mencegat kawan yang nanti lewat. Disini dapat info dari pemilik warung kalau ternyata Bambang R1100GS baru lewat sekitar 10 menit yang lalu sendirian. Tidak sampai 15 menit Ervien R100GS tiba dan kamis udah komplit 10 motor 30 menit kemudian.

Berhenti disini tidak lama, setelah segelas kopi dan  makan sekedarnya saja tidak perlu kenyang-kenyang. R51/3 Rohman berulah, mulai susah untuk dihidupkan. Mesti ada campur tangan mekanik untuk mneghidupkan mesin. Ujung Genteng adalah rute final hari ini, sudah dekat sebenarnya. Sebisa mungkin sampai disana pas jam makan siang, langsung terbayang santap ikan bakar dipinggir pantai. Jampang Kulon sudah dilewati. Dari Surade, Ujung Genteng sudah semakin dekat. Namun sempat terhenti sekitar setengah jam di Surade karena R1100GS disenggol motor bebek penduduk sekitar yang berbonceng tiga. Tidak ada motor yang terjatuh dalam insiden ini, hanya saja Box R1100GS sebelah kanan terjatuh dan pecah. Sementara satu pembonceng bebek terluka memar di pergelangan kaki. Tidak ada rumah sakit disekitar TKP, pengobatan darurat diberikan di tempat praktek Bidan EulisRosmiati yang berada sekitar 1km di depan.

Tepat jam 12.00 kami sudah sampai di Ujung Genteng. Sempat salah belok ke kiri menuju pasar ikan. Cuaca cerah, R80G/S tak tahan godaan untuk foto-foto. Tak peduli terpisah dari kawan-kawan yang sedang mencari tempat makan. Wilayah Ujung Genteng masuk  pemerintahan Kabupaten Sukabumi. Salah satu tujuan wisata pantai di Jawa Barat. Pantai disini terkenal keindahannya, memiliki karakterisitk umumnya pantai selatan pulau Jawa yang bersih airnya dan ombak yang besar. Pastinya menjadi surga bagi mereka yang suka fotografi. Konon nama Ujung Genteng berasal dari Ujung Gunting, dimana posisi Ujung Genteng berada di ujung salah satu sudut pulau di Jawa Barat yg berbentuk gunting.

Sebenarnya tempat penginapan sudah dipesan, letih tubuh kalah suara dengan rintihan perut. Tidak jauh dari simpang tiga di pantai ujung genteng terlihat warung makan yang menyajikan ikan bakar. Ada bangunan utama terbuat dari kayu dan bambu beratap daun kelapa kering. Dibagian depan terdapat parkiran berbatu, disebelah kiri disediakan bangunan tambahan untuk makan lesehan. Walau hari libur tapi tidak terlalu banyak pengunjung datang siang itu. Sebenarnya tempat ini sangat asyik untuk tidur-tiduran (lagi) karena banyak pohon rindang disekitarnya. Tapi apa asiknya leyeh-leyeh dengan perut lapar ..? Nampaknya sang pemilik warung tidak siap dengan 11 perut lapar yang datang tiba-tiba. Sementara menunggu hidangan tersaji dapat kabar kalo Heroe dan Dhimas dalam perjalanan sedang mendapat trouble di Cibadak, R67/2 nya berulah, mendadak mati dan susah dihidupkan. Tapi kunci-kundi dan  spare part dibawa lengkap. Api yang dikeluarkan dari busi kecil dan lemah. Tapi semangat untuk melanjutkan turing masih kuat dan terang. Mekanik memberi saran agar busi agak dirapatkan.

Butuh satu jam setengah untuk menyajikan menu ikan bakar, itu pun setelah dibantu Bu Elis yang sengaja dibawa sebagai koki turing untuk membuat sambal. Begitu tersaji, makanan disantap dengan lahap seolah tanpa ada sedikitpun rasa iba untuk kucing .........

Pondok Hexa tempai kami menginap tidak lah terlalu jauh. Motor dipacu dengan kecepatan sedang menyusuri jalan di sepanjang pantai yang tidak jelas apakah ada aspal atau tidak karena lebih banyak pasir padat dengan sedikit batu di sepanjang jalan. Hanya jejak roda kendaraan yang menandakan kalo yang dilewati ini adalah jalan raya. Sesekali jalan raya tertutup oleh genangan air yang tidak bisa ditebak kedalamannya, kalo ketemu jalan begini biasanya GS disuruh jalan duluan.

Cuma butuh 15 Menit untuk sampai ke Pondok Hexa. Pantai laut selatan tepat di depan penginapan, hanya dipisahkan jalan raya. Di seberangnya ada sebuah warung kecil yang ternyata juga menyediakan ikan bakar.
Penginapan ini lumayan luas dengan kamar-kamar yang berada dalam posisi terpisah dengan rumput berpasir  tanpa ada beton permanen di perkarangan, agak kotor kalo sehabis hujan.

Tidak bisa berharap banyak kalo soal makanan di penginapan ini, tidak ada pilihan selain nasi goreng. Kalau ingin ikan bakar dipesan dulu ke tempat lain. Bahkan untuk air mineral pun mesti beli ke warung.
Sementara Rizal sibuk mengurusi jatah kamar, R67/2 sudah sampai di daerah Cigarut Jampang Kulon. Tempat yang sama kami berhenti tadi pagi.
Sepanjang sore acara bebas. Suasana liburan mulai terasa, banyak mobil-mobil pribadi dengan plat nomor Jakarta, Bogor hilir mudik mencari penginapan atau parkir di sisi pantai. Termasuk rombongan 20 anggota klub motor cross dari Bandung.
Menjelang sore cuaca mendung, harapan foto-foto sunset di ujung genteng sirna. Walau begitu Bambang BSA tetap setia menikmati cakrawala sendiri ditemani Hidra. Soeharno dan Rohman jalan mesra berdua menyusuri pasir di pantai, tapi gak gandengan. Agus dan Rizal gak mau kalah, kencan naik R100GS nyusur jalan arah barat arah pangumbahan. Duo mekanik sibuk ngecek motor.

Makan malam jam 20.00 bertepatan dengan R67/2 dan R100R yang akhirnya sampai di Pondok Hexa untuk bergabung. Menu makan malam, lagi-lagi ikan bakar. Tapi gak pernah bosan dan selalu habis tandas. Selesai makan gerimis mulai turun, mekanik sigap dorong R67/2 ke tempat yang ada teduh untuk cek pengapian. Kamar bu Elis langsung dirubung, ada gula ada semut. Asiknya kalo turing bawa ibu-ibu adalah selalu tersedianya cemilan setiap saat. Kacang dua kelinci, biskuit dan kopi kapal api sachet cukup untuk menikmati Soeharno yang malam itu sedang on fire ngelawak. Gak usah diceritain lah isi lawakannya .. :D

(bersambung .. Day 2)

Sunday, 24 June 2012

Candi Plaosan, Prambanan

24 Juni 2012
Mengisi waktu lenggang selepas acara Djokja International Classic Bikes Show, kami menyempatkan jalan jalan ke sekitaran Jokja. Niat awalnya adalah ingin foto foto di Candi Prambanan, foto dengan motor tentunya.

Tapi apa daya, ketika sampai di kompleks candi prambanan motor tidak diperbolehkan masuk. Setelah bincang-bincang sedikit dengan petugas jaga, kami diarahkan untuk mengurus ijin ke kantor yang lokasinya tidak terlalu jauh dari pintu masuk.

Ternyata biaya yang  harus dikeluarkan untuk mendapatkan ijin motor masuk ke pelataran candi cukup mahal juga, Rp 30.000,- untuk satu motor plus Rp 750.000,- untuk ijin pengambilan foto. Waduh ... mahal  sekali !!!??

Tapi kami tidak kehabisan akan. Masih banyak candi lain di Prambanan. Mudah diakses dan tidak perlu ijin untuk mengambil foto karena candi candi tersebut berada di tepi jalan raya. Jadilah kami mengarah ke Candi Plaosan Lor dan berpuas puas mengambil gambar dengan segala macam gaya, ya narsis orang nya narsis motornya juga.

Candi Plaosan terletak di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, kira-kira 1,5 km ke arah timur dari Candi Sewu. Kompleks Candi Plaosan terdiri atas Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul.
R60/2
Candi Candi ini merupakan candi Budha, bisa dikenali dari adanya kemuncak stupa, arca Buddha, serta candi-candi perwara (pendamping/kecil) yang berbentuk stupa. Kompleks ini dibangun pada abad ke-9 oleh Raja Rakai Pikatan dan Sri Kahulunan pada zaman Kerajaan Medang, atau juga dikenal dengan nama Kerajaan Mataram Kuno.

Pendapat lain mengenai pembangunan Candi Plaosan ialah bahwa candi tersebut dibangun sebelum masa pemerintahan Rakai Pikatan. Menurut Anggraeni, yang dimaksud dengan Sri Kahulunan adalah ibu Rakai Garung yang memerintah Mataram sebelum Rakai Pikatan. Masa pemerintahan Rakai Pikatan terlalu singkat untuk dapat membangun candi sebesar Candi Plaosan. Rakai Pikatan membangun candi perwara setelah masa pembangunan candi utamanya.

Lebih dri separo bangunan candi runtuh, hanya dua candi induk dan beberapa candi perwara saja yang masih berdiri. Candi Induk bagian utara lebih banyak arca dan relief perempuan. Ya ini karena ditujukan untuk putri Raja Samarattungga dari Wangsa Syailendra, Pramodhawardani. Sementara Candi induk bagian selatan merupakan candi peziarah pria. Disini banyak relief dan arca yang merepresesntasikan Rakai Pikatan.

Pada bulan Oktober 2003, di kompleks dekat Candi Perwara di kompleks Candi Plaosan Kidul ditemukan sebuah prasasti yang diperkirakan berasal dari abad ke-9 M. Prasasti yang terbuat dari lempengan emas berukuran 18,5 X 2,2 cm. tersebut berisi tulisan dalam bahasa Sansekerta yang ditulis menggunakan huruf Jawa Kuno. Isi prasasti masih belum diketahui, namun menurut Tjahjono Prasodjo, epigraf yang ditugasi membacanya, prasasti tersebut menguatkan dugaan bahwa Candi Plaosan dibangun pada masa pemerintahan Rakai Pikatan.

Lebih lanjut soal candi Plaosan bisa baca disini.

Tuesday, 10 April 2001

Pantai Baron, Yogyakarta April 2001


17 April 2001
Pantai Baron, pantai paling populer di Gunungkidul, karena pantai ini adalah pantai pertama yang akan ditemui jika mengunjungi gugusan kecup mesra laut dan daratan, simbol keelokan wisata pantai Gunungkidul.

Pantai Baron terletak di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, sekitar 20 km arah selatan kota Wonosari (40 km dari kota Yogyakarta).
Pantai yang menjadi saksi pertemuan antara air laut dan air tawar, yang merupakan hasil dari sungai yang bermuara di satu sudut pantai baron, sebagai perlambang berpadunya dua hati meski dengan perbedaan latar belakang.











  1. Motor R51/3 Si Mbah, ganti karet kopel
  2. BMW R25/3 Chopper dan R51/3 Benny di tahun 2001.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...