Showing posts with label Turing Suka Suka. Show all posts
Showing posts with label Turing Suka Suka. Show all posts

Saturday, 11 January 2014

Turing Awal Tahun Kawah Putih - Cidaun

Rizal Yusacc
:
Agus Taufik H
:
Soeharno
:
Budi Dharma
:
R80G/S
Bambang S. A
:
R1100RT
Rochman
:
R45
Anfal
:
R1200C
Bambang P.S.
:
R100R
Yonee
:
K75

Kali ini BMWMC jakarta menggelar turing pendek ke wilayah jawa barat. Sekedar manasin motor, sekaligus tes motor di jalanan saat hujan dan licin. Konon, ini adalah test ride sebelum turing jendral ke sulawesi. Benarkah akan ke sulawesi? Yaa liat saja nanti haha.
8 motor sejak awal konfirm ikut. Harapannya sih lebih dari 8 motor, sayangnya beberapa teman batal karena kesulitan cuti dan ada acara keluarga.
Hari selasa 14 januari libur maulid nabi. Maka diputuskan berangkat jumat 10 januari tengah malam, dan 2 malam menginap supaya senin malam sudah kembali ke jakarta.

Jumat siang, kami sempat waswas karena hujan terus mengguyur jakarta. Namun, di grup bbm, disepakati bahwa hujan atau kering, malam ini tetap berangkat.

Sabtu, 11 Januari 2014
01.00
Cekpoint pertama di margonda depok. Berkumpul  Rochman R45, pakde bambang R100R dan yonee K75 yang sudah mendarat duluan. Menyusul Rizal R100RS dan Agus Taufik R90S merapat ke margonda, sebelum akhirnya Bambang R1100RT juga tiba. Kami pun tak membuang waktu dan langsung berangkat menuju warung jambu. Disana, pak Budi R80G/S hitam sudah menunggu. Perjalanan malam menuju bogor berlangsung lancar. Tes rem, tes akselerasi, memastikan motor siap jalan jauh.

02.00
Tiba di warung jambu, pak budi R80GS sudah menanti. Tak laman eyang suharno R65GS putih merapat. Saat itulah grup bbm heboh, karena ada peserta dadakan sedang menuju lokasi, anfal R1200C james bond ternyata ikut last minute hahaha seru.

02.30
Kami start dari warung jambu menuju puncak. Biasa, menjelang long week end, kami bukan satu2 nya grup motor yang turing. Berpapasan dengan grup ninja, grup CB cafe racer, dan beberapa grup motor lainnya. Jalur puncak kami lewati dengan beriringan bersama, sesekali saling menyalip. Cuaca gerimis dan berkabut membuat kami beberapa kali menahan motor saat turun menuju cianjur. Rombongan sedikit terpisah, Agus dan suharno ngacir duluan. Rizal, budi darma, anfal dan bambang beriringan masuk ke cianjur. Sempat terkejut mendapati tabrakan avanza dengan truk di jalur cianjur, dan warga sedang mengevakuasi penumpang avanza yang terjepit. Tapi karena sudah banyak yg membantu, kami lanjutkan perjalan ke titik pertemuan di Bubur Bianjur. Dari belakang, rochman, dian dan pakde menyusul. Kami beristirahat dan makan bubur sambil bersiap shalat subuh.

05.15
Usai shalat subuh di cipatat, rombongan berjalan perlahan karena kabut tebal membatasi jarak pandang. Cipatat - padalarang, kabut tak putus dan udara terasa sangat dingin. Selepas padalarang di tagog apu, motor baru bisa melaju kencang sampai memasuki kota padalarang. Kami mengisi bensin di pom sebelum jalan tol, sambil menunggu yang terpisah. Ternyata, rochman dan dian berhenti di warung dan... Tidur karena ngantuk. Kami menunggu sambil menikmati kopi, dan bandros (kue pancong).

06.30
Kami melanjutkan perjalanan ke arah cimahi, namun berbelok ke kanan menuju batujajar. Seperti biasa, kawasan bandung di pagi hari dipadati para pemotor yang akan bekerja di sekitar pabrik2. Beberapa kali terhenti karena jalan rusak dan angkot ngetem, akhirnya kami memasuki kota soreang. Secara umum, jalannya lumayan. Sayangnya kurang petunjuk, padahal banyak persimpangan. Salah belok, bisa menuju pangalengan dan bukan kearah ciwidey rancabali.
Sempat berhenti sejenak untuk ngopi dan mencari petunjuk lokasi hotel, kami melanjutkan perjalanan menuju kawah putih.
Jalannya lumayan bagus, cenderung ramai namun teratur. Banyak rumah makan nasi liwet, dan hotel2 kecil di sepanjang jalur. Penulis, lahir hingga kuliah di bandung, agak terperangah melihat perubahan daerah ciwidey menjadi kawasan wisata. Kebun strawberry, areal camping dan piknik, menjadi hiasan jalur ciwidey. Baru penulis bisa mengingat jalur ini saat melewati rumah makan dan hotel sindang reret, rumah makan kondang sejak era 90an, milik ortu teman penulis, kang Derry. Baru terasa yakin bahwa kami sedang mengarah ke perkebunan rancabali hahaha...

08.00
Kami melewati gerbang kawah putih. Tapi perut lapar belum sarapan, dan di sebrang gerbang penuh mobil polisi. Akhirnya kami putuskan masuk ke areal MT resort, menuju restoran yang kayaknya lebih nyaman ketimbang warung2 di sekitar kawah putih. Pilihan tepat, menu nya ternyata asik, fresh, dan lezat. Nasi panas, ayam goreng, jambal, tempe bacem, tahu, sayur lodeh nyammmm...
Menunggu makanan, foto2 tiada henti. Suasananya memang kereeen hamparan rumput, kebun teh dan perkebunan karet.

MT Highland Resort





10.00
Kami berembuk akan menuju kemana karena hotel belum bisa cek in. Maka, wisata ke kawah putih pilihannya. Ternyata, motor tak bisa masuk sampai ke atas. Disediakan mobil angkutan, dengan biaya 28 ribu perorang termasuk tiket masuk. Sedangkan untuk mobil pribadi yang ingin naik ke kawah, harus membayar 150ribu per mobil diluar tiket masuk per kepala.
Jadilah biker BMWMC naik angkot menuju kawah putih.
Dan, foto2 so pasti bergaya dan menyewa fotografer. Maksudnya, tukang foto langsung jadi di booking untuk motret. Yaa bagi2 rejeki lah hehehe...
Selesai foto, tangga menanjak menanti. Ampuuun, ngos ngosan juga.

Kawah Putih





12.00
Kami sudah nyemplak diatas motor dan menuju hotel. Kami menginap di villa kayu milik perkebunan rancabali. Lokasinya? Lumayan susah dicari hehehe...
Setelah tanya tanya, puter sana sini, ternyata rumah kayu memang berada di tengah kebun teh... Suasananya nyaman, lengkap dengan jalanannya yg licin.
Kalo sudah kumpul begini, semua hanya berkisah tentang motor dan motor. Suasananya memang terasa akrab, apalagi cuaca hujan dan terasa dingin sekali. Sore hari kami jajan Sate, lumayan nikmat makan sate sambil menatap motor2 yang berderet di depan villa.

Malamnya, tidur dengan nikmat. Semua berebut tidur di extra bed, gak ada yang kepengen di kamar. Aneh juga, padahal member BMWMC ini banyak bos2 yang kalau tugas keluar kota, pasti harus menginap minimal di Hilton hehehe....

Minggu. 12 Januari 2014
05.00
Usai shalat subuh, sebagian besar peserta Turing sudah bangun. Ada yang langsung cuci motor, ritual rutin saat tuing. Ada yang sarungan dengan kopi panas, ada juga yang jalan2 keliling kebun teh. Rencananya, pagi ini kami akan start jam 9 pagi menuju ke Situ Patenggang dan lanjut arah cidaun.
Hujan gerimis, membuat kami siap2 mengenakan jas hujan. Namun sebelum berangkat, menyempatkan foto2 narsis dengan mengenakan kaos berlogo BMWMC Jakarta yang masih baru.



09.00
Perjalanan menuju situ Patenggang. Hanya sekitar 15 menit, jalanan yang mulus, basah, suasana sepi dan segar, kami sudah memasuki gerbang Situ Patenggang. Setelah membayar tiket masuk, hamparan situ patenggang yang Indah memaksa kami berhenti sejenak dan foto-foto.
Setiba di areal parkir, ada yang memilih kembali menikmati kopi, ada juga yang berjalan2 ke arah pinggiran danau. Situ dalam bahasa sunda artinya adalah danau. Patenggang sudah sejak dulu menjadi areal wisata sekaligu tempat kemping anak-anak di Bandung saat mereka menggelar outbond ataupun ospek.

11.00
Puas berjalan-jalan,  kami siap2 menuju Cidaun. Konon, jalur Patenggang, Naringgul, hingga Cidaun cukup mulus jalannya, dengan pemandangan yang sangat Indah. Kami memasuki areal perkebunan PTPN 8, riding diantara kebun teh dan para pemetik daun teh yang pagi itu sudah beraktifitas. Selepas perkebunan, menyusuri kaki gunung patuha, tanjakan dan turunan lumayan memacu adrenalin. Ada yang langsung gas poll menikmati jalur, namun ada juga yang berhenti sejenak untuk berfoto, bagaikan meniti diatas awan. Belum lagi pemandangan 7 air terjun yang kami lalui, benar2 membuat hati terasa teduh sekaligus bahagia menyaksikan kebesaran Nya.
Sempat berhenti sesaat karena kabel Kopling R90s pak Agus kendor, dan kesempatan tak dilewatkan untuk foto2 lagi hehehe. Akibatnya, Rizal, Dian, Rochman dan Agus menjadi rombongan bagian belakang yang sibuk foto-foto. Sementara Anfal, pakde Bambang, Suharno, Budi, Bambang BSA, sudah lebih dulu beritirahat di salah satu air terjun. Kami lanjutkan perjalanan dengan catatan: mencari rumah makan. Menurut warga, kira-kira 5 kilometer ke depan ada warung makan.

12.30
Hanya butuh kurang dari 2 jam, kami merayap perlahan memasuki Cidaun. Dari kejauhan, udara pantai mulai terasa. Dingin berubah menjadi hawa panas. Jalan mulus bergantu jalan penuh kubangan. Di kota kecamatan Cidaun, kami tak menemukan tempat makan. Jarak 5 Kilometer pun rasanya sudah terlampaui. Padahal, perut sudah mulai terasa lapar. Sekitar 2 kilometer selepas kota Cidaun, ada mobil polisi di salah satu warung makan. Kami memutuskan ikut berhenti, dan Pak Agus yang siang itu bertugas melacak jalur, memutuskan makan siang. Putusan yang pas, karena hujan mulai semakin deras.
Warung Apih, menjadi pilihan makan siang.

02.00
Kami lanjutkan perjalanan mencari penginapan di sekitar pantai Jayanti. Pantai ini sebetulnya termasuk obyek wisata, namun kurang terawat. Kotor dan banyak warung remang2, membuat kami enggan berada di dekat bibir pantai. Pak Agus memutuskan mencari penginapan yang agak jauh dari deretan warung, dan kami masuk ke Hotel Putri. Hujan kian deras, pilihan terbatas dan hotel ini menjadi tempat kami menginap malam ini.  Motor pun di naikan ke atas lobby kamar masing-masing.

20.00
Malamnya, kami berjalan-jalan ke pantai, mencari ikan bakar. Suasananya yang sedikit gelap dan remang2, membuat kurang nyaman dan kami kembali ke penginapan. Cilakanya, baru kami sadari hotel ini berada diantara semak belukar. Maka, selain nyamuk, ternyata rayap, cacing dan kaki seribu juga ikut menyambut rombongan BMWMC. Tapi kaki seribu tidak sempat masuk kamar, mungkin terlalu lama lepas sepatu dan hari sudah keburu pagi ....
Malam ini, beberapa diantara kami tidur tak nyenyak. Rizal dan Yonee diantaranya hehehe....




Senin 13 Januari 
05.00
Walau tak tidur nyenyak,  pagi buta beberapa dari peserta sudah berada di luar kamar. Lap motor, melipat jas hujan, dan merapikan peralatan. Tak ada sarapan pagi, bahkan kopi pun harus beli di warung depan. This is benar-benar NOT RECOMMENDED hotel pokoknya.

08.00
Kami sudah siap. Foto-foto sejenak sebelum berangkat. Dan tujuan awal, mencari sarapan pagi. Saat keluar dari Pantai Jayanti, pak Agus yang kembali memimpin di depan, memutuskan sarapan di warung Apih, tempat kami makan siang kemarin siang. Murah meriah, nikmat rasanya, nyaman tempatnya.
Obrolan kami pagi ini: kabar tentang Jakarta yang dikepung banjir. Hati mulai was was.

09.30
Dari cidaun kami melaju menuju Sindang Barang. Jalur Ini bukan pertama kali kami lalui, karena turing sebelumnya ke Rancabuaya kami melalui jalur yanga sama. Rasanya, penulis pun sudah 4x melalui jalur ini. Namun kali ini, musim hujan membuat jalanan sangat licin dan rusak berat. Beberapa bagian jalan sedang diperbaiki dengan beton, membuat jalan sangat tinggi sementara bahu jalan licin. Motor2 GS terlihat menikmati jalur ini, sementara R1100 RT sangat perlahan karena rawan melintir.

11.00
Kami tiba di alun-alun Sindang Barang. Belum waktu shalat, sehingga tidak mampir di masjid raya yang nyaman dan menyenangkan ini.
Perjalanan menuju air terjun di Kecamatan Tanggeung, tak jauh berbeda. Kami merayap perlahan Karena jalan licin dan rusak berat. Padahal, tahun 2011 kami ingat, di jalur ini gas poll menikmati tikungan-tikungan tajam. Berhenti sejenak di air terjun untuk makan gorengan, buang air kecil, sekaligus foto2, tiba-tiba Rochman menghilang. Ternyata dia berada di kali, di bawah jembatan. Ngapain yah? Misteriusss hehehe.
Acara makan siang dilakukan di kota kecamatan Tanggeung, di warung Itikurih. Sekaligus shalat di pesantren tepat di belakang tempat makan. Sambil makan siang kami berembuk, apakah masuk kota Cianjur akan dilanjutkan ke Jonggol, atau melalui Puncak saja. Diputuskan, diskusi trayek selanjutnya dilakukan di Cianjur. Dan lagi-lagi jalanan Tanggeung hingga Cianjur rusak parah. Kami merayap perlahan dengan lumpur yang full mengotori motor. Perjalanan pendek, namun menjadi sesi yang paling melelahkan.

16.00
Memasuki kota Cianjur, akhirnya disepakati menuju Puncak. Jonggol bukan pilihan karena karena kabar tentang banjir di Jakarta. Sempat salah jalur menuju ke Sukabumi, akhirnya kami menuju Rindu Alam untuk makan sore. Jalanan hujan dan berkabut, kami nikmati saja dan membuat perut lapar. Di rindu alam, pak Anval dan Pak Bambang BSA tak ikut berhenti dan memilih berbelanja oleh-oleh di Bogor. Jadilah kami ber tujuh menikmati sop Kambing, Sate, kambing guling dll.
Selepas Rindu Alam, ternyata macet total jalur antara Puncak - Jagorawi. Rombongan terpencar, dan penulis tertinggal karena lampu mendadak mati padahal hari mulai gelap. Senin ini meski hari kerja, tapi sekaligus Hari kejepit sehingga jalanan ramai banyak yang berwisata. Kami baru bertemu kembali di perapatan Warung Jambu, dan berpisahlah rombongan menuju Parung dan Rombongan menuju Raya Bogor. Dari sini R90s putus kopling (lagi).
Setelah bersalaman, kami berpisah masing-masing. Turing singkat yang ternyata sangat menyenangkan. Sayang bagi mereka yang tak sempat bergabung.

Well, see you next touring, viva BMWMC Jakarta.


(foto-foto dan story oleh : Rizal Yusacc)

Saturday, 11 May 2013

Ujung Genteng - Tanjung Lesung Tour [Celebrating 90 Years BMW Motorrad] Day 3

Day 3, Bayah - Tanjung Lesung - Bogor

Hari terakhir, ada dua pilihan mengenai rute yang akan ditempuh pada hari ini. Pilihan pertama turing cukup sampai Binuangeun saja dan setelahnya langsung pulang arah Jakarta lewat Cikande. Dengan rute ini bisa sampai di rumah lebih awal. Tapi banyak yang memilih menyelesaikan terus sampai Tanjung Lesung, alasannya supaya tidak malu dengan rute turing yang sudah terlanjur dicetak di kaos. Gak masalah walau nantinya akan sampai di Jakarta malam hari. No problemo .. capek dikit gak masalah.

Jam setengah 8 kami sudah berada di jalan raya Bayah - Cikotok, menyusuri jalan di teluk Ciletuh. Cuaca pagi cerah, dari atas motor kita seolah kejar-kejaran dengan ombak laut selatan. Walau ombak besar, tapi gemuruhnya nyaris tidak terdengar. Kalah dengan suara knalpot R67/3 nya Heru yang akhirnya copot juga di sini.

Masuk di Malingping kami berhenti di SPBU pertama yang ditemui disisi kiri jalan. Minyak rem R100GS makin tiris, banyak terbuang karena guncangan di jalan. Sejak Awal memang tidak ada seal karet dalam tandon minyak rem. Tetesannya sudah merusak cat disisi kanan tanki dan sedikit spakbor depan.

Malingping adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Indonesia. Kecamatan ini merupakan kecamatan terbesar kedua, setelah kecamatan Rangkasbitung dari seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Lebak. Banyak pantai bagus di Malingping, tapi kami tidak punya cukup waktu untuk mengunjungi salah satunya. Tapi sayang juga kalo tidak ada dokumentasi disekitar sini. Kesempatan foto-foto akhirnya kesampaian juga di Binuangeun yang berjarak 20 km di depan.

Binuangeun dikenal sebagai tempat pelelangan ikan terbesar di pantai Lebak selatan. Kami berhenti diatas jembatan Muara Binuangeun.  Cuaca sangat mendukung, angit cerah dengan sinar matahari yang masih dari arah samping. Semua berfoto dengan latar perahu tradisional yang ditambatkan disisi muara, warna -warni. Walau cuma sebentar, banyak foto yang dibuat disini. Karena sudah jauh meleset dari jadwal semula, perjalan terasa terburu-buru. Padahal Tanjung Lesung sudah dekat dan seharunya sudah bisa sampai sebelum jam makan siang.

Selepas Binuangeun, jalanan sudah tidak mlipir garis pantai lagi, jalan raya Cikuesik - Cibaliung namanya. Jalan tidak terlalu ramai dengan penunjuk arah yang jelas. Tetapi sesampainya di perempatan jalan pasar sukajadi harusnya belok kanan arah labuhan. Entah siapa yang posisi paling depan malah ambil jalan lurus, memang agak membingungkan jalan yang arah kanan sekilas terlihat dalam kondisi rusak. Tidak terpikir kalo itu adalah jalan raya utama arah Tajung Lesung. Konyolnya lagi, bikers yang berada diposisi belakang tidak ada satu pun yang menyadari kalo jalan yang diambil sudah salah arah. Padahal jarak masing-masing motor sangat dekat saat itu.

Jalan yang dilalui semakin mengecil dan dalam kondisi berkerikil, kiri kanan terlihat perkampungan. Sudah berlalu 25km baru sadar kalo telah salah jalan, itu pun karena melindas polisi tidur yang sepertinya tidak mungkin ada kalau jalan raya. Pantas banyak warga sekitar yang terbengong2 melihat kawanan motor melintas, bukan kagum tapi heran ini orang pada mau kemana. Bahkan ada beberapa anak sekolah yang melambai-lambai sebelumnya, dibalas pula dengan lambaian tangan dan klakson. Padahal mungkin saja mereka teriak .. "woi .. kalian nyasar !!"

Kalau sudah nyasar gini bawaannya jadi gak pede, obatnya cuma dengan banyak tanya2. Padahal setiap orang yang ditanya jawabannya sama, "terus saja pak, sampai ketemu perempatan pasar trus ambil kiri." Jam 11.00 kami sampai di pasar dimaksud, supaya lebih afdol tanya sekali lagi. ya betul, belok kiri. Lumayan 1 jam terbuang gara-gara nyasar. Tapi ada hikmahnya, naik motor jadi lebih lama he he he ...

Setengah jam kemudian ketemu pertigaan, Tanjung Lesung masih 9km belok kiri. Dari pertigaan ini jalan aspal sangat mulus, tebal dan rata. Beda dengan kondisi aspal sebelumnya. Jarak 9 km terasa sangat pendek. Di bawah pohon rindang tidak jauh dari gerbang masuk Tanjung Lesung Resort menjadi tempat pencapaian turing ini. Hidra dan Rizal jalan terus keliling mencari tempat makan. Ternyata tidak ada restoran umum disekitar sini. Yang ada restoran ekslusif milik pengelola resort. Sekitar 3km kedepan memang ada pantai yang terbuka untuk umum, tapi tidak ada tempat yang menyediakan makan berat. Yang tersedia hanya mie rebus dan minuman kelapa muda. Ya sudah numpang foto-foto saja disini, langsung putar balik jalan pelan sambil toleh kiri-kanan sampai ketemu rumah makan pertama yang menyediakan ikan bakar.

4km dari pintu gerbang Tanjung Lesung Resort, disebelah kiri jalan terdapat Pondok Makan Sari Jaya. Menu yang disajikan cukup beragam, hampir semua hidangan laut. Tepat diseberang jalan terdapat mesjid. Sambil menunggu hidangan masak, disempatkan untuk sholat karena sudah masuk waktu. Lewat 30 Menit hidangan belum siap. Tapi stok sabar masih banyak. Sambil ngobrol dan nyanyi-nyanyi tidak terasa masing-masing sudah menghabiskan satu butir kelapa muda. Lagian tidak ada pilihan lain untuk makan selain di tempat ini. Andaikan makan di restoran padang, mungkin sudah nambah dua kali.

Pukul 14.00 kami sudah berada diatas motor mengarah ke Labuhan melintas jalan raya di sisi Teluk Lada. Tidak sampai masuk kota, dipertigaan belok kanan arah pandeglang melalui Jalan Perintis Kemerdekaan. Awalnya ada kekhawatiran berkendaran dengan kondisi perut kenyang pad jam-jam segini .. Ngantuk !! tapi tidak sampai terjadi, tiba-tiba cuaca gelap dan hujan turun. Minggir sebentar di Ruko untuk ganti kostum tahan air.

Hujan deras cuma sebentar, selebihnya hanya hujang dengan intensitas ringan. Selepas Saketi lalu lintas semakin padat dengan kecepatan maksimum 30km. Jalan raya terlihat kotor berwarna coklat, berasal dari tanah galian dari sisi jalan. Ada perbaikan dan pelebaran jalan.  Sudah terbayang bakal menghadapi kemacetan, dan kejadian juga ! tidak lama berselang lalu lintas semakin padat dari kedua arah. Walaupun kecil kendaraan roda dua tidak bisa memilih jalan dan kadang harus ikut berhenti untuk mendapatkan giliran jalan dengan mobil karena padatnya colume kendaraan.  Terlalu berisiko untuk mengambil bahu jalan, galian tanah sangat licin ditambah kombinasi lubang gorong-gorong. Ambil kanan jalan tidak kalah beresiko, karena sama padatnya. Bahaya kalao beradu dengan kendaraan besar.

Cuma satu jam, tapi sangat menguras tenaga. Walau hujan sudah tidak lagi turun tapi panas nya mantel anti hujan dan suasana macet yang bikin capek hati seolah membuat tenaga yang dikumpulkan di Pondok Makan Sari Jaya terbuang percuma. Kiraa-kira 300 meter setelah RSUD Berkah Pandeglang terdapat pertigaan. Ada polisi mengatur lalu lintas, hampir semua kendaraan dibuang belok kanan. Motor boleh Jalan terus. 50  meter didepan terdapat Rumah Makan Padang SAMULO yang bersebelahan dengan Warung Tegal BAHARI, diantara nya terdapat bengkel las dengan tempat parkir tanah padat yang cukup luas. Disini berhenti untuk mengumpulkan tenaga dan mengumpulkan teman-teman. Ada yang mengeluh sakit pala, sebagian mengeluh lapar. Tapi hampir semua sakau kopi.

Hampir semua motor sudah berkumpul. Hanya R1100GS BSA yang tidak kunjung muncul. Ditunggu terlalu lama, dihubungi tidak bisa. Disimpulkan Bambang SA sudah bablas jalan sendirian di depan. Selanjutnya dari titik ini R1100GS sudah terlepas dari rombongan.

Hujan kembali turun. Hari sudah gelap selepas magrib ketika keluar Rangkasbitung mengikuti papan penujuk arah yang bertuliskan Jasinga Bogor. Rute terasa semakin berat. Kondisi jalan yang bisa dibilang sangat tidak ramah, tanpa penerangan sama sekali dan ranjau kubangan sangat banyak. Motor dengan suspensi ala kadarnya tersiksa lewat jalan ini. Untung tidak ada motor mogok, bakal repot karenanya.

Tanpa disadari rombongan terpecah dua. Sebelum masuk Jasinga, sekitar pukul 19.00 lima motor terdepan berhenti di sebuah warung. Warung sederhana dari kayu, tapi jajanan lumayan komplit. Cocok untuk tempat berhenti kendaraan yang bepergian lewat jalur ini. Makan malam di warung ini. Bogor masih jauh didepan, sementara empat motor belum ada kabar jauh tertinggal di belakang. Mie rebus yang dimasak terlalu matang tetap terasa enak, padahal 3 jam sebelumnya sudah kenyang makan di pandeglang. Udara dingin dan hujan memang menguras tenaga. Hidra dapat mie hambar, sepertinya si akang yang buat lupa menuangkan bumbu, tapi tetap habis tuh ..

Tidak lama berselang, Heru dan anaknya Dhimas datang bergabung. Memberi kabar kalo Bambang BPS memutuskan untuk menginap semalam di Rangkas Bitung ditemani Boy. Tidak mau memaksakan riding hujan-hujan di malam hari. Dan melanjutkan ke Jakarta lewat serang besok harinya.

Yang tersisa selanjutnya berjalan konvoi tanpa terputus dengan kecepatan rendah. Berjalan terseok-seok dengan kondisi jalan yang makin parah. Bogor menjadi titik finish turing ini. Heru dan Dhimas memisahkan diri begitu memasuki kota Bogor. Sisanya berpisah di Semplak, Rohman, Ervien dan Soeharno ke kiri arah Parung. Rizal, Agus, Hidra dan Yoni masuk Jakarta lewat Cibinong.

kompak selalu BMW Motor Club Jakarta !!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...