Friday, 10 May 2013

Ujung Genteng - Tanjung Lesung Tour [Celebrating 90 Years BMW Motorrad] Day 2

Day 2, Ujung Genteng - Bayah

Tidak ada kegiatan cuci motor di pagi hari. Hujan sepanjang malam di ujung genteng membawa kesan motor terlihat bersih, cuma modal kanebo untuk ngelap bodi motor. Tapi hujan membawa korban. Klakson R1100GS teriak-teriak nyaring di pagi hari ketika motor hendak dihidupkan. Korslet karena air hujan menyusup sampai ke tombol klakson. Tidak semua motor dapat tempat parkir strategis yang terlindung dari air hujan. Walau begitu R50/2 dan R51/3 terbebas dari masalah koslet, pemiliknya sudah siap sedia memakai cover waterproof di batok lampu.

Tidak ada jadwal untuk jalan-jalan ke pantai Pangumbahan untuk foto-foto. Banyak waktu terbuang karena kelamaan ngobrol di restoran dan foto-foto di parkiran depan Pondok Hexa. Sesi foto lumayan lama karena hari ini semua kompak memakai kaos seragam turing. Motor diparkir berjejer rapi menghadap arah pantai. Foto komplit di belakang motor minta tolong satpam hotel.

Pukul 09.00 jaket dan helm sudah terpasang dan motor siap berangkat. Melalui jalan yang sama seperti kemarin sebenarnya, tapi lebih menantang karena banyak kubangan air yang semakin lebar dan dalam karena hujan semalaman. Tidak ada jalan lain kecuali nekat menerabas genangan air. Tapi masih aman, tidak ada motor mati mesin karena knalpot terendam air. Yang dikhawatirkan terutama motor klasik yang posisi mesin sangat rendah, pengapian rentan terendam air.











Tidak jauh dari selepas ujung genteng, di jalan raya Ujung genteng - surade, R100GS berhenti di tukang bensin eceran "Kurnia Motor" untuk tambah oli mesin. Yang baru disadari kalo oli mesin berkurang pagi hari ketika akan berangkat. Tidak semua berhenti disini, sebagian jalan terus untuk isi bensin di SPBU terdekat, yang katanya baru ada setelah memasuki surade. Karena baru kemarin lewat sini, Surade terasa dekat. Lewat lima jurus kami sudah berkumpul di SPBU yang lumayan rame.

Pukul 11.30 istirahat makan siang sekaligus sholat jumat di Ciemas, Rumah Makan di tepi jalan dengan menu  khas jawa barat, minuman khas bikers juga ada .. kopi maksudnya. Berhubung sudah masuh waktu sholat jum'at acara makan siang ditunda sampai nanti setelah selesai sholat, berhubung mesjid terdekat berada sekitar 3 km di depan. Mesjid Al Ikhlas Kb. Kacang. Untuk mencapai mesjid ini kami tidak naik motor, tapi numpang naik truk yang kebetulan juga akan sholat di mesjid yang sama. Semua berloncatan naik ke atas bak truk, cuma satu orang yang tidak berhasil naik dan terpaksa duduk di depan menemani pak supir. coba tebak siapaa .... ??? Bu Elis stand by ditempat jaga motor, lagi-lagi ada gunanya juga ngajak ibu-ibu turing.

Kelar jumatan langsung balapan makan, banyak pilihan makanan. Tapi yang paling laris pepes. Ada banyak macam pepes disini, pepes ikan mas, pepes ayam. Sayangnya pepes ikan peda sedang tidak ada. Bendahara turing sedang baik hati, makan siang kali ini boleh nambah tanpa batas. Yang sudah makan pepes dua porsi masih boleh pesan sop. Minum kopi malah ditawari untuk nambah. Bahkan krating daeng pun ditawari, semua ditanggung bendahara. Cuma beli bensin aja yang bendahara yang keberatan bayar .........

Pelabuhan ratu sekitar 25km di depan tapi kami tidak bisa jalan ngebut karena jalur berbelok tajam dengan kondisi jalan yang kadang sedikit menjebak. Aspal yang mulus tiba-tiba terputus berganti jalan keriting dan berlubang. R90s nyaris adu kambing dengan Kijang Inova gara-gara diprovokasi oleh R51/3 nya Rohman.
40 menit kemudian kami kembali melintasi jembatan kuning bagbagan. Belok kiri arah pelabuhan ratu dan berhenti 500 meter kemudian di depan sebuah bengkel mobil karena ada yang kebelet pipis.

Pukul 15.00 kami sudah memasuki pelabuhan ratu, agak tersendat sedikit karena lalu lintas yang lumayan padat. Sebelum memasuki pantai Citepus, tidak jauh setelah tikungan Hotel Bayu Amrta Pelabuhan Ratu kami dicegat petugas retribusi masuk kawasan wisata. apa - apaan ini ? kita bukan mau wisata ke pantai, tapi cuma numpang liwat mau ke arah Bayah. Lanjut terus, gak ada yang mau bayar

Kondisi jalan raya Pelabuhan Ratu - Bayah tidak lah terlalu bagus. Sepertinya sudah lama tidak dilakukan pelapisan ulang. Jalurnya membelah perbukitan yang ngeri-ngeri sedap. Tanjankan dan turunan curam silih berganti tdak ada habisnya. Di selingi tanjakan curang dengan tikungan patah setelahnya, ini yang cukup membahayakan. Tapi lalu lintas tidak terlalu ramai, sehingga motor bisa dipacu sedikit kencang untuk bisa menikmati tikungan. Rebah kiri - rebah kanan tdapi tidak sampai rebah beneran.

Di rute ini performa motor klasik dan yang lebih mudaan mulai terasa perbedaannya. Motor keluaran dibawah tahun 1969 terengah-engah saban merayap tanjakan, silih berganti pindah persneling satu dan dua. Perlahan tapi pasti, yang tua mesti ngalah dengan yang muda. Yang muda dengan sombongnya ninggalin, ngacir jauh didepan.

15.45 R100GS sampai duluan dan berhenti  di Cisolok, motor lain ikut berhenti sambil nunggu motor-motor klasik yang jauh tertinggal di belakang. Diatas bukit dengan pemandangan terbuka. Cuaca mendung, dan dari sini kita bisa melihat awan hitam menggantung di atas  Pelabuhan Ratu.

Lebih dari 30 menit empat motor tidak juga tiba. R100R, R67/2 dan dua motor mekanik R100RS, R60/2. Dari informasi via telepon R67/2 mogok sekitar 15km dibelakang. Koil semakin lemah, dan sama sekali tidak mengeluarkan api disaat panas. Sangat wajar mengingat jalan menanjak, kerja mesin semakin berat dan mesin cepat panas. Setelah mesin dingin dan ganti busi baru motor bisa hidup kembali. Beruntung BPS membawa koil cadangan, rencananya akan dibongkar sesampainya di bayah.

Tepat pukul 18.00 kami sampai di Bayah. Banyak view bagus sebenarnya sepanjang jalan raya Cisolok - Bayah, tapi tidak sempat berhenti karena hujan gerimis dan juga tidak mau membuang waktu karena sudah terlalu sore. Disimpang tiga Bayah kami berhenti, sambil makan kue pancong menunggu Rizal dan Soeharno yang wara-wiri cari tempat penginapan.  Sementara itu R90s ngambek, starter mati total. Gejala yang sudah dialami sejak Jampang Kulon tadi siang. Kali ini mati total. Tapi ini motor canggih, walau tidak dilengkapi dengan kickstarter, motor masih bisa dihidupkan walau tanpa electric starter. Dengan cara ..... didorong !! wkwkwkwkwk

Agak sulit cari penginapan disini untuk yang sangat Pemilih. Banyak hotel bagus yang sudah penuh. Kota terdekat Sukabumi 175km dan  137km dari Rangkas. Setelah tanya2, dapat info kalau ada penginapan baru dibuka sekitar 500 meter dari persimpangan ini. Hotel Saree'at namanya, hotel kelas melati yang berlokasi masuk lewat jalan tanah sekitar 50 meter dari jalan raya. Kami check in semua kamar langsung penuh. Dan ini hotel yang benar-benar baru, sampai pompa airpun belum dipasang sempurna dan listrik yang kerap byar pet gak kuat menahan beban AC yang serentak dinyalakan. Dan kemungkinan pompa air terbakar, karena lebih dari 2 jam kamar mandi tidak ada air mengalir menunggu perbaikan mario bros setempat.

Walau begitu tidak ada yang mengeluh apalagi protes, karena Rizal dengan sigap menyediakan nasi padang bungkus dan makan lesehan di lobi hotel.

(bersambung ... Day 3)

Thursday, 9 May 2013

Ujung Genteng - Tanjung Lesung Tour [Celebrating 90 Years BMW Motorrad] Day 1

9-11 Mei 2013
 
 
 
 
 
Rohman
Pak Dhe BPS
Heroe PS
Rizal Yusaac
Boy Unyil
 
 
 
 
 
Djoko Sulis
Agusta
Simonov
Ervien JB
R100GS
Yonee
 
 
 
 

Dhimas
R100R
Soeharno
Bambang S Aji
R1100GS
Irwan
Piaggio

Ide turing dadakan untuk mengisi hari kejepit di akhir pekan mendadak menjadi banyak peminat, dari semula hanya lima motor yang rencana jalan, tiba-tiba bertambah menjadi diatas sepuluh. Rute Ujung Genteng - Tanjung Lesung menjadi daya tarik tersendiri, konon banyak cerita seru dan mengasyikkan dari mereka yang sudah menempuh jalur ini. Jalan menikung dengan tanjakan curam sepanjang pelabuhan ratu - bayah tidak pernah habis untuk dijadikan bahan cerita.

Ide untuk membuat kaos seragam turing muncul tiba-tiba. Karena awalnya turing ini tanpa nama dan tanpa tema, hanya sebatas lanjutan dari turing ke garut tiga bulan sebelumnya. Kebetulan tahun 2013 ini BMW Motorrad tepat berusia 90 tahun dan dijadikan tema turing dadakan. Untuk gambar kaos, theme 90 years BMW Motorrad dimodifikasi dengan menambahkan gambar motor yang sedikit klasik, R90s dan R50/2.

Sehari menjelang keberangkatan, satu peserta mundur karena kepentingan keluarga yang tidak dapat dihindarkan. Padahal Widhi sudah bela-belain beli R75/5 dan motor dikebut setel mesin supaya siap dipakai dalam turing kali ini.

Bogor - Ujung Genteng

Tidak ada kata sepakat untuk menentukan meeting point di sekitaran Jakarta mengingat sebaran peserta yang lumayan beragam. Ide untuk janjian di Warung Jambu Bogor langsung disepakati. Ditetapkan pukul setengah lima di SPBU Warung Jambu Bogor. 12 motor tiba tepat waktu dalam waktu yang hampir bersamaan dalam beberapa rombongan. Yang terakhir bergabung Boy, Djoko dan anaknya Irwan yang numpak Piaggio warna orange. Semua ceria, gak ada cerita murung durja kalo yang yang namanya turing ...

Kelar dholat shubuh, di ufuk timur sana matahari mulai beranjak naik dan kami sudah jalan beriringan menuju arah Ciawi. 2 motor ditinggal, Heroe dan anaknya Dhimas memilih untuk menyusul jalan tengah hari. Jalan yang semula sepi lancar  tiba-tiba padat selepas Ciawi. Udara pagi yang sejuk berubah panas karena menyusuri jalan sempit berebutan dengan bus dan truk,karena ada perbaikan disisi jalan.  Harus jalan ekstra hati-hati, jalan raya yang sebenarmya lega jadi terasa sempit, ditambah lagi dengan pasir dan kerikil yang bertebaran di sisi jalan. Dalam sekejap, konvoi yang awalnya berjalan rapi beriringan langsung berantakan. Hanya mekanik yang tetap setia untuk selalu berada paling belakang sebagai sweeper.

Pukul setengah tujuh R51/3 Rohman menepi tidak jauh setelah lewat pasar Cicurug. Mesin motor tiba-tiba mati, awalnya diduga karena overheat. Motor susah dihidupkan, ternyata ruang bakar kebanjiran bensin. Tidak susah untuk menghidupkan kembali cuma modal amplas dan kunci busi. Sementara itu masuk kabar kalau Piaggio Orange terjatuh tidak jauh selepas Ciawi. Terpeleset karena menghindar lubang dijalan yang licin berpasir. Tidak ada kerusakan dan cidera yang berarti, hanya saja Irwan sedikit terkilir pergelangan tangannya. Tidak memaksakan diri, diputuskan untuk balik kanan pulang kerumah. Untuk R60/2 Djoko dan Piaggio Irwan bisa dibilang turing mereka selesai sampai disini ...

Entah karena sok tahu atau tidak mengikuti petunjuk rute dari ketua rombongan, sesampainya di Cibadak Rohman, Hidra dan Pak Dhe Bambang belok kanan. Menuju Pelabuhan Ratu Lewat Cikidang. Padahal Soeharno dan Rizal menunggu tidak jauh di depannya dekat pos polisi. Baru disadari kalau tiga orang ini meninggalkan rekan-rekannya jauh di belakang ketika 5km menjelang Pelabuhan Ratu, ketika berhenti di depan kantor Badan Permusyawaratan Desa Buniwangi Kecamatan Pelabuhan Ratu. Disampingnya ada  sebuah warung yang menyediakan secangkir air panas mendidih yang dicampur kopi dengan sedikit gula ....

Menyadari kawan jauh tertinggal sekitar satu jam di belakang, tiga motor ini berjalan pelan. Selepas pelabuhan ratu belok kanan arah Jampang Kulon lewat  jembatan yang melintas sungai Cimandiri.
Ada dua jembatan disini, disamping jembatan yang menjadi jalur utama, masih berdiri jembatan gantung legendaris yg berwarna kuning peninggalan jaman Belanda. Masyarakat setempat menyebutnya Jembatan Kuning Bagbagan.

Pukul 09.30 di sekitar Cigarut menepi di Pondok Sate Sindang Heula. Banyak ragam makanan dijual disini. Tempatnya bersih, cukup luas untuk tidur-tiduran dengan area parkir yang luas dan terbuka. Cukup strategis untuk mencegat kawan yang nanti lewat. Disini dapat info dari pemilik warung kalau ternyata Bambang R1100GS baru lewat sekitar 10 menit yang lalu sendirian. Tidak sampai 15 menit Ervien R100GS tiba dan kamis udah komplit 10 motor 30 menit kemudian.

Berhenti disini tidak lama, setelah segelas kopi dan  makan sekedarnya saja tidak perlu kenyang-kenyang. R51/3 Rohman berulah, mulai susah untuk dihidupkan. Mesti ada campur tangan mekanik untuk mneghidupkan mesin. Ujung Genteng adalah rute final hari ini, sudah dekat sebenarnya. Sebisa mungkin sampai disana pas jam makan siang, langsung terbayang santap ikan bakar dipinggir pantai. Jampang Kulon sudah dilewati. Dari Surade, Ujung Genteng sudah semakin dekat. Namun sempat terhenti sekitar setengah jam di Surade karena R1100GS disenggol motor bebek penduduk sekitar yang berbonceng tiga. Tidak ada motor yang terjatuh dalam insiden ini, hanya saja Box R1100GS sebelah kanan terjatuh dan pecah. Sementara satu pembonceng bebek terluka memar di pergelangan kaki. Tidak ada rumah sakit disekitar TKP, pengobatan darurat diberikan di tempat praktek Bidan EulisRosmiati yang berada sekitar 1km di depan.

Tepat jam 12.00 kami sudah sampai di Ujung Genteng. Sempat salah belok ke kiri menuju pasar ikan. Cuaca cerah, R80G/S tak tahan godaan untuk foto-foto. Tak peduli terpisah dari kawan-kawan yang sedang mencari tempat makan. Wilayah Ujung Genteng masuk  pemerintahan Kabupaten Sukabumi. Salah satu tujuan wisata pantai di Jawa Barat. Pantai disini terkenal keindahannya, memiliki karakterisitk umumnya pantai selatan pulau Jawa yang bersih airnya dan ombak yang besar. Pastinya menjadi surga bagi mereka yang suka fotografi. Konon nama Ujung Genteng berasal dari Ujung Gunting, dimana posisi Ujung Genteng berada di ujung salah satu sudut pulau di Jawa Barat yg berbentuk gunting.

Sebenarnya tempat penginapan sudah dipesan, letih tubuh kalah suara dengan rintihan perut. Tidak jauh dari simpang tiga di pantai ujung genteng terlihat warung makan yang menyajikan ikan bakar. Ada bangunan utama terbuat dari kayu dan bambu beratap daun kelapa kering. Dibagian depan terdapat parkiran berbatu, disebelah kiri disediakan bangunan tambahan untuk makan lesehan. Walau hari libur tapi tidak terlalu banyak pengunjung datang siang itu. Sebenarnya tempat ini sangat asyik untuk tidur-tiduran (lagi) karena banyak pohon rindang disekitarnya. Tapi apa asiknya leyeh-leyeh dengan perut lapar ..? Nampaknya sang pemilik warung tidak siap dengan 11 perut lapar yang datang tiba-tiba. Sementara menunggu hidangan tersaji dapat kabar kalo Heroe dan Dhimas dalam perjalanan sedang mendapat trouble di Cibadak, R67/2 nya berulah, mendadak mati dan susah dihidupkan. Tapi kunci-kundi dan  spare part dibawa lengkap. Api yang dikeluarkan dari busi kecil dan lemah. Tapi semangat untuk melanjutkan turing masih kuat dan terang. Mekanik memberi saran agar busi agak dirapatkan.

Butuh satu jam setengah untuk menyajikan menu ikan bakar, itu pun setelah dibantu Bu Elis yang sengaja dibawa sebagai koki turing untuk membuat sambal. Begitu tersaji, makanan disantap dengan lahap seolah tanpa ada sedikitpun rasa iba untuk kucing .........

Pondok Hexa tempai kami menginap tidak lah terlalu jauh. Motor dipacu dengan kecepatan sedang menyusuri jalan di sepanjang pantai yang tidak jelas apakah ada aspal atau tidak karena lebih banyak pasir padat dengan sedikit batu di sepanjang jalan. Hanya jejak roda kendaraan yang menandakan kalo yang dilewati ini adalah jalan raya. Sesekali jalan raya tertutup oleh genangan air yang tidak bisa ditebak kedalamannya, kalo ketemu jalan begini biasanya GS disuruh jalan duluan.

Cuma butuh 15 Menit untuk sampai ke Pondok Hexa. Pantai laut selatan tepat di depan penginapan, hanya dipisahkan jalan raya. Di seberangnya ada sebuah warung kecil yang ternyata juga menyediakan ikan bakar.
Penginapan ini lumayan luas dengan kamar-kamar yang berada dalam posisi terpisah dengan rumput berpasir  tanpa ada beton permanen di perkarangan, agak kotor kalo sehabis hujan.

Tidak bisa berharap banyak kalo soal makanan di penginapan ini, tidak ada pilihan selain nasi goreng. Kalau ingin ikan bakar dipesan dulu ke tempat lain. Bahkan untuk air mineral pun mesti beli ke warung.
Sementara Rizal sibuk mengurusi jatah kamar, R67/2 sudah sampai di daerah Cigarut Jampang Kulon. Tempat yang sama kami berhenti tadi pagi.
Sepanjang sore acara bebas. Suasana liburan mulai terasa, banyak mobil-mobil pribadi dengan plat nomor Jakarta, Bogor hilir mudik mencari penginapan atau parkir di sisi pantai. Termasuk rombongan 20 anggota klub motor cross dari Bandung.
Menjelang sore cuaca mendung, harapan foto-foto sunset di ujung genteng sirna. Walau begitu Bambang BSA tetap setia menikmati cakrawala sendiri ditemani Hidra. Soeharno dan Rohman jalan mesra berdua menyusuri pasir di pantai, tapi gak gandengan. Agus dan Rizal gak mau kalah, kencan naik R100GS nyusur jalan arah barat arah pangumbahan. Duo mekanik sibuk ngecek motor.

Makan malam jam 20.00 bertepatan dengan R67/2 dan R100R yang akhirnya sampai di Pondok Hexa untuk bergabung. Menu makan malam, lagi-lagi ikan bakar. Tapi gak pernah bosan dan selalu habis tandas. Selesai makan gerimis mulai turun, mekanik sigap dorong R67/2 ke tempat yang ada teduh untuk cek pengapian. Kamar bu Elis langsung dirubung, ada gula ada semut. Asiknya kalo turing bawa ibu-ibu adalah selalu tersedianya cemilan setiap saat. Kacang dua kelinci, biskuit dan kopi kapal api sachet cukup untuk menikmati Soeharno yang malam itu sedang on fire ngelawak. Gak usah diceritain lah isi lawakannya .. :D

(bersambung .. Day 2)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...